Dampak perubahan Iklim
Perubahan iklim sering dibicarakan dari sudut pandang hutan, energi terbarukan, dan pengurangan emisi dari industri. Namun, ada bagian bumi yang tak kalah penting dalam perjalanan menuju masa depan rendah karbon: laut dan ekosistem pesisir.
Di sepanjang garis pantai, mangrove, padang lamun, dan rawa asin bekerja sebagai penyerap dan penyimpan karbon alami. Ekosistem inilah yang menjadi bagian penting dari konsep blue carbon, sebuah pendekatan yang semakin relevan dalam upaya menghadapi perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat pesisir.
Bagi Indonesia, topik ini memiliki arti strategis. Indonesia memiliki sekitar 3,39 juta hektare mangrove berdasarkan pemutakhiran Peta Mangrove Nasional 2022, atau sekitar 21% dari total mangrove dunia menurut KLHK. [Sumber: KLHK, 2022; ANTARA, 2023]
Namun, keberadaan ekosistem tersebut saja belum cukup. Agar kontribusinya terhadap iklim dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan, karbon pesisir perlu diukur, dipantau, dilaporkan, dan diverifikasi dengan pendekatan yang kredibel.
Artikel ini membahas bagaimana blue carbon, ekosistem pesisir, dan sistem verifikasi data dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan dan organisasi untuk membangun inisiatif ESG yang lebih berdampak.
Memahami Konsep Coastal Blue Carbon
Coastal blue carbon adalah karbon yang diserap, disimpan, dan terakumulasi oleh ekosistem pesisir dan laut, khususnya mangrove, padang lamun (seagrass), dan rawa asin (salt marshes).
Secara sederhana, tumbuhan pesisir menggunakan karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui fotosintesis. Sebagian karbon kemudian tersimpan dalam biomassa seperti batang, akar, dan daun, tetapi bagian yang sangat penting justru dapat tersimpan dalam sedimen atau tanah pesisir selama waktu yang panjang.
Bayangkan ekosistem pesisir seperti sebuah brankas karbon alami. Pohon dan tumbuhan memasukkan karbon ke dalam sistem tersebut, sementara tanah dan sedimen membantu menyimpannya. Selama ekosistem tetap sehat dan tidak terganggu, karbon dapat tetap tersimpan dalam jangka panjang.
IPCC mengakui mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun sebagai ekosistem blue carbon yang mampu mengakumulasi karbon organik dalam sedimen. IPCC juga menilai bahwa perlindungan dan restorasi ekosistem tersebut dapat mengurangi emisi dan meningkatkan penyerapan karbon, sekaligus membantu melindungi wilayah pesisir dari erosi dan banjir. [Sumber: IPCC AR6]
Blue Carbon vs Green Carbon
Istilah green carbon umumnya merujuk pada karbon yang disimpan dalam ekosistem daratan, seperti hutan tropis, hutan pegunungan, dan agroforestri.
Sementara itu, blue carbon dalam konteks pesisir berfokus pada ekosistem yang berada di wilayah peralihan antara daratan dan laut.
Perbedaannya dapat digambarkan sebagai berikut:
Green Carbon
- Hutan dan ekosistem daratan
- Banyak karbon tersimpan pada biomassa
- Sangat dipengaruhi kondisi hutan dan tanah
- Contoh: reforestasi
- Berperan dalam mitigasi perubahan iklim
Coastal Blue Carbon
- Mangrove, lamun, rawa asin
- Karbon tersimpan pada biomassa dan sedimen
- Sangat dipengaruhi dinamika pesisir dan sedimen
- Contoh: restorasi mangrove
- Mitigasi sekaligus perlindungan pesisir
Yang menarik, karbon biru tidak hanya berbicara tentang jumlah karbon yang diserap. Nilai ekologis dan sosialnya juga sangat besar.
Mengapa Inisiatif Blue Carbon Pesisir Sangat Krusial?
Perlindungan ekosistem pesisir menawarkan sesuatu yang cukup unik: satu tindakan dapat memberikan banyak manfaat sekaligus.
Ketika mangrove dipertahankan, misalnya, manfaatnya tidak berhenti pada karbon.
Manfaat utama blue carbon meliputi:
- Mitigasi perubahan iklim
Ekosistem pesisir dapat menyerap dan menyimpan karbon sehingga membantu mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. - Perlindungan garis pantai
Akar mangrove membantu menstabilkan sedimen dan mengurangi energi gelombang. Ekosistem pesisir juga berkontribusi terhadap perlindungan dari erosi dan banjir. [Sumber: IPCC AR6] IPCC - Perlindungan biodiversitas
Mangrove dan lamun menyediakan habitat bagi berbagai jenis ikan, kepiting, moluska, burung, dan organisme lainnya. - Mendukung mata pencaharian masyarakat
Ekosistem pesisir yang sehat dapat mendukung perikanan, ekowisata, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. - Meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim
Ekosistem pesisir membantu masyarakat menghadapi sebagian dampak perubahan iklim, termasuk kenaikan muka laut, banjir pesisir, dan degradasi habitat.
Dengan kata lain, blue carbon bukan hanya tentang karbon. Ia berada di persimpangan antara iklim, laut, biodiversitas, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Jika perusahaan Anda sedang mengembangkan program ESG, CSR lingkungan, konservasi mangrove, atau strategi blue carbon, Bali Ocean Carbon dapat menjadi mitra untuk menghubungkan inisiatif pesisir dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan keberlanjutan perusahaan.
Mari menjadikan pesisir bukan sekadar tempat untuk menyimpan karbon, tetapi bagian nyata dari solusi perubahan iklim.
"“Di antara akar mangrove dan sedimen pesisir, tersimpan lebih dari sekadar karbon: tersimpan bagian dari masa depan kita.”"